Belajar dari Jalan Macet
Belajar dari Jalan Macet
Macet itu pengalaman yang hampir semua orang benci.
Mesin hidup, tapi kendaraan tidak bergerak.
Waktu jalan, jaraknya hanya beberapa meter.
Di tengah macet, biasanya ada dua tipe orang.
Yang pertama gelisah.
Klakson dibunyikan.
Emosi naik.
Merasa semua orang di depannya salah.
Yang kedua diam.
Menyetel radio.
Menarik napas.
Menerima bahwa hari ini memang tidak bisa cepat.
Menariknya, dua-duanya sama-sama sampai.
Tidak ada yang tiba lebih dulu secara signifikan.
Macet mengajarkan satu pelajaran sunyi:
tidak semua keterlambatan bisa dipercepat dengan emosi.
Dalam hidup, banyak fase yang mirip macet.
Sudah usaha.
Sudah jalan.
Tapi rasanya mandek.
Ditambah tekanan dari sekitar.
“Kenapa belum?”
“Yang lain kok sudah?”
“Kamu ke mana aja?”
Seperti macet, kita sering menyalahkan keadaan.
Padahal kadang, satu-satunya pilihan waras adalah bertahan tanpa merusak diri sendiri.
Macet bukan tanda kita salah jalan.
Sering kali itu tanda terlalu banyak orang sedang menuju arah yang sama.
Dan tidak semua perjalanan harus cepat untuk bisa benar.

